Rss Feed
    Tampilkan postingan dengan label kisah ku. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label kisah ku. Tampilkan semua postingan
  1. #sudahalal | syukuran nJogja | part 2

    Minggu, 06 Agustus 2017

    Hellooo, I'm back again.
    Setelah kurang lebih sebulan vakum, padahal sebenarnya postingan ini harus segera terupload, biar ga basi. Tapi berhubungan kesibukan yang menyibukan diri, ya sudah, baru sempat terposting.

    Cerita masih soal rangkaian royal wedding (((ROYAL WEDDING))) saya. Usai kesuksesan acara di kampung halaman saya, rangkaian kegiatan berlanjut ke rumah mertua a.k.a Pondok Mertua Indah di Sleman, Jogja. Acara digelar tepat ditanggal merah waktu itu, Kamis, 25 Mei 2017 atau kurang lebih seminggu usai acara di Balikpapan.

    Acara digelar setelah liburan saya sama Bojo ke Kota Batu, Malang. Untuk cerita soal liburan, akan saya share foto-fotonya sesegera mungkin ya gaes. 

    Jadi syukuran di Jogja ini semacam ngunduh mantu, niat awalnya ga gede-gedean. Tanpa pelaminan, tanpa dandan serupa acara nikah sebelumnya. Tapi entah kenapa, acara jadi lumayan gede. Dengan pelaminan sederhana, tapi pakaian yang saya kenakan tak serupa manten. 

    Saya dan Bojo menjahit sarimbit. Pakaian Bojo dan rok yang saya kenakan bermotif lurik berdominasi cokelat. Untuk atasan saya mengenakan kebaya kutu baru modifikasi beraksen payung di bagian lengan. Berukuran panjang selutut kaki berbahan maxmara berwarna merah bata . Kebaya ini saya jahit di modiste milik istri seorang kawan wartawan di Balikpapan, Samantha Project

    Untuk harga yang dibanderol, saya sedikit lupa, kalau ga salah sekitar 300an ribu. Oiya, untuk model, sebenarnya saya mencontek dari contoh pakaian kebaya kutu baru modifikasi dari sebuah akun instagram yang menyajikan foto/gambar pakaian kondangan ^^

    Kemudian untuk makeup, menggunakan perias manten yang juga tetangganya Mas Bojo, namanya mba Nunung, dengan brandnya Rucita Laksmi Wedding House. Mba Nunung, merias saya dengan dandanan simpel dan minimalis, karena temanya sendiri bukan manten, hanya sekadar syukuran saja. Tapi makeup yang saya pakai ini rasanya berat sekali, entah kenapa. Mungkin karena emang foundi yang di pke berat. Tapi hasil untuk foto, makeupnya jadi bagus bgt.

     Di acara ini, emak-babe bersama Mba Ipar datang, lengkap dengan para sepupu di Pakem, dan juga keluarga dari sekitaran Turi turut hadir. Saya sendiri ga nyangka, keluarga besar saya yang ada di Pakem dan sekitarnya bisa hadir. Ya walaupun kehadiran mereka semua, tak lepas dari drama nyasar😝

    Ya sudahlah ya, Alhamdulillah kegiatan berjalan sangat lancar. Berikut beberapa foto yang ingin saya share buat teman-teman yang baca.
    Matur Tengkyuu πŸ™πŸ™

    ****

    W/ Mas Bojo. Btw ini baju yang saya deskripsikan di atas tadi. Untuk hijab kebetulan minjem sama punya Mba Nunung, Pun dengan model hijab dan aksesorisnya.

    😘😘

    Udah kaya' foto-foto lawas 😬😬😬

    Bapak-ibu || Emak-babe

    😘

    😘

    Sepupu - Mba Ipar

    Keluarga barunya saya, Trah Wongsodinomo.

    See yaaa....................



  2. 19-20 Mei 2017

    Minggu, 09 Juli 2017

    Monggo dilihat foto-foto selama acara dua hari berlangsung. Hasilnya saya rangkum, yang terbaiklah yang akan saya posting. 

    Matur tengkyuuuuuu~

    ***

    19 Mei 2017


    Udah sah, masih tegang :))


    Eaaaaa~





    Keluarga baru :')


    Sabtu, 20 Mei 2017


    Ini prosesi cucuk lampah adat Yogya ya. Si bapak penari ini dari komunitas daerah di bawah binaan Kesbangpol Pemkot Balikpapan (semoga ga salah ^^)


    bapak ibu - mama papa :))

    Keluarga baru tambah banyak :))

    Ibu-ibu dan gadis penerima tamu

    Alhamdulillah Walikota Balikpapan, Rizal Effendi menyempatkan hadir

    Bersama kawan Redaksi Harian Tribun Kaltim

    Si Duo :p

    Rekan Wartawan Balikpapan. Matur Tengkyuuuuu :))

    Laper?

    Kepo!

    :)

    Tulisan singkat bisa dibaca di postingan sebelumnya,  

    Tararengkyuuuu~







  3. Assalammualaikum Wr Wb

    Minal Aidin Wal Faidin ya kawan.

    Walau udah lewat lama, kan masih suasana bulan Syawal :))


    Yupp, yupp..
    Setelah lama menghilang, saya kembaliiiiiii~
    Postingan kali ini lanjutan dari postingan sebelumnya #menujuhalal.

    Tapi mungkin kali ini bukan #menujuhalal kalik ya, tapi #sudahalal :D

    Alhamdulillah, sekarang udah jadi istrinya orang. Sudah bukan lagi jadi anak gadis :')
    Sedih bercampur bahagia juga, karena akhirnya bisa menemukan seorang pendamping hidup setelah sekian lama galau ga jelas :p

    Perjuangan menuju halal, Subhanallah perjuangannya, terlebih kami berdua harus menjalani hubungan jarak jauh Balikpapan - Yogyakarta. Selama pacaran pun sampai menjelang persiapan banyak banget godaannya. Godaan di sini mungkin lebih dimaksud pada godaan untuk menahan emosi kalik ya.

    Maklum aja, seluruh persiapan, nyari vendor, dan lainnya hanya dilakukan berdua sama emak. Gimana ngga cape, dan nahan kesel kalau semua yang dipilih kadang hasilnya ga disukai atau ga disetujui sama si mamas. Hvft!

    Tapi Alhamdulillah, semua berjalan dengan sangat lancar, baik sama hari akad, dan juga acara besarnya. Rasanya semua marah, nangis, dan kesel itu terbayarkan setelah acara lancar dan banyak mendapat berkah doa dari keluarga, tetangga, dan sahabat.

    Oke postingan ini aku bagi dalam beberapa point ya. Semoga terhibur dengan tulisan random kali ini.

    1. Pemilihan venue/lokasi resepsi
    Percayalah, dalam pemilihan lokasi ini saya harus ribut sama bapak. Saya maunya di sana, babe maunya di sini. Repot.

    Pilihan saya, Langen Palikrama Kantor Pegadaian. Tempatnya strategis, agak di tengah kota. Apalagi aula ini dilengkapi AC yang super dingin, pun harga sewanya murah. Sekitar Rp 6 juta, tapi berkat lobi-lobi saya bisa dapat Rp 5 juta.
    Eladalah, untung belum fix ya, babe ngamuk maunya di Aula Serbaguna KNPI yang lokasinya deket bgt sama rumah.
    Alasan babe Pegadaian terlalu jauh buat dirinya dan tetangga :((
    Emang sih, antara Langen Palikrama dengan KNPI masih lebar KNPI. Luas lah venuenya. Tapi untuk harga lumayan mahal KNPI.

    Ya sudahlah, mengalah. Dan akhirnya saya mencoba melobi sana dan sini. Alhamdulillah bgt, Manajer Produksi ditempat saya kerja membantu, karena kebetulan juga bagian dari anggota KNPI.

    Normalnya untuk persewaan gedung ini antara Rp 8 juta sampai Rp 10 juta, tapi Alhamdulillah, bekerja di media dapat membantu saya memperoleh harga yang sangat, sangat, sangat terjangkau (untuk alasan kebaikan bersama harga melobi yang saya dapat, sengaja tidak dicantumkan).

    Tapi harga yang diberi tidak termasuk persewaan kipas angin (blower) ya, soalnya gedung ini walau besar, alat pendingin ruangan ga ada. Alhasil sewa sama penjaga gedungnya, 10 kipas angin besar dibanderol Rp 500 ribu.

    Syukur Alhamdulillah lagi, selama acara, cuacanya adem. Ga panas, ga gerah juga :))

    Oiya, ternyata pun banyak untungnya juga lokasi acara deket sama rumah. Ya pokoknya Alhamdulillah. Ribut-ribut sama babe itu bagian dari proses persiapan kok. Buat cerita kedepannya :))

    Pelaminan Tiva Pink di Aula Serbaguna KNPI Balikpapan. (Dok. by Tiva Pink)

    Red carpet by Tiva Pink. (Dok. by Tiva Pink)


    2. Dekor dan Rias Manten
    Ini pencariannya berbekal search engine macam mbah Google, dan juga pencarian via Instagram. Sebab saya beranggapan, perias yang dipercaya adalah mereka yang aktif ber-Instagram :p
    Sementara emak mengandalkan Google.

    Cari sana, pilih ini, pilih yang itu, kalau ga sesuai cari lagi. Semuanyaaaaa.

    Akhirnya pilihan jatuh sama perias muda Balikpapan, Tiva Pink. Harganya murah dibanding perias dan dekor manten lainnya. Tapi bukan berarti ga murahan ya gaes. Saya pun mengganggap, mba Tiva ini mengusung tema modern. Sebab dari pakaian yang disediakan pun kebanyakan bertema modern, yang bisa dilihat dari gaun-gaun pengantin yang disediakannya.

    Tapi bukan berarti mb Tiva ga bisa konsep tradisional ya. Dia menerima konsep secara lengkap, dari tradisional, modern, dan kekinian.

    Awalnya saya sendiri mau mengambil tema tradisional Paes Yogya, tapi kok rasa-rasanya kurang sreg sama metode tutup kepala dan lehernya. Apalagi saya berhijab. Dan baju tradisional khas Yogya yang mba Tiva sediakan hanya warna hitam. Bisa sih dikombinasikan dengan rias paes agengnya, tapi saya juga ga sreg sama make up paes ageng buat wanita berhijab.

    Di sisi lain, emak pun sangat menginginkan saya mengenakan pakaian berwarna hijau. Ya sudahlah, konsep Islam Modern saya ambil. Gaun yang saya pilih pun pakaian baru, belum ada yang pakai.

    Diantara kedua rias (akad & resepsi), jujur saya puas bgt sama hasil rias akad. Soft dan kalem. BUkan berarti saya ga suka rias resepsinya, toh byk temen yang bilang saya "manglingi" :))
    Tapi tetap yang paling membekas itu rias saat akad. MUngkin karena acara sakral kalik ya, pemilihan riasnya memang sengaja di buat soft dan kalem.

    Dan yang bikin saya senang lagi hasil dekorasinya, diluar ekspektasi cyiiintt. Cantiiiiik sekaliii. (foto atas).
    Lihat hasil rias dari dekorasi dari pengantin lainnya, bisa cek di http://tivapink.blogspot.co.id/





    Dua foto teratas adalah rias akad nikah lengkap dengan henna putih. Dua foto terbawah, rias dan gaun untuk resepsi keesokan harinya. Oiya untuk akad nikah, itu baju pemberian mertua, ditambah lagi kain bawah untuk buat kebaya panjang. (Dok. by Tiva Pink)


    Berikut price listnya, tapi harga bisa berubah sewaktu-waktu, teman-teman bisa hubungi langsung kontak Tiva Pink yang tertera di gambar atas, atau pada akun Instagram.


    3. Henna
    Sejak awal, partner buat henna tangan saya ga pake mikir. Maklum aja, sejak awal sudah kenal bgt sama si acilnya ini, Mahendhien.
    Wartawan Balikpapan mana yang ga kenal sama si acil satu ini, kecuali wartawan baru ya :p

    Saya booking si Acil a.k.a mba Dinda tiga bulan sebelum hari H. Awalnya saya cuma pesan pake henna merah aja, baik saat akad dan resepsi.

    Eh malam sebelum hari akad, si acil nawarin saya buat endorse henna putih, yang harganya cenderung lebih tinggi dari si henna merah. Di endorse, siapa yang ga mau. Yaudah deh saya iyain aja tanpa pikir panjang.

    Mba Dinda rekomendasiin glitter terbarunya yang dia punya. Glitter henna putih yang dia pake itu katanya jauh lebih mengkilat dibanding glitter yang udah ada. Katanya sih barang baru gitu.

    Dan emang ga ngecewain. Hasilnya pas bgt sama rias dari mba Tiva. Glamor dan juga soft dari riasnya. Tapi kekurangan henna putih ini, selain ga nyerap kulit gampang bgt terkelupas. Saya aja salaman sama orang-orang rasanya agak males gt, takut hennanya rusak :p

    Hasil henna di tangan saya, bisa dilihat di foto atas ya :)


    4. Catering
    Hahaha ini unik, vendor catering saya pilih dan saya booking sebulan sebelum lamaran. Yupp lamaran!! :D

    Mungkin karena bagian paling krusial dari sebuah hajatan kalik ya. Emak memutuskan untuk membookingnya. Apalagi saat pesan, kebetulan di event wedding expo yang digelar sama kantor saya. Lumayan ada potongan, walau ga banyak :D

    Namanya Catering Sundari. Saya pilih ini, karena dari rekomendasi banyak teman, catering ini bisa dibilang jempolan. Sudah berpengalaman untuk segala jenis acara apapun. Pilih ini juga karena nyediain sambal goreng kering kentang yang enak dan yang kriuk :))

    Asli, layanannya sangat menyenangkan. Ini saya ngalamin sendiri waktu cek dekorasi gedung. Malam itu, emak minta meja makan buat tamu sebanyak 8 buah lengkap taplak dan kursi-kursinya.

    Ternyata eh ternyata, saat pemesanan, emak ga mengingatkan lagi, ywdh deh saya pesan langsung ke pegawai yang lagi loading barang malam itu di KNPI. Eh disambut sangat ramah, ga cuma satu orang, tapi dua orang selaigus. Mereka sabar bgt sama permintaan macam-macam. Mungkin mereka terbiasa kalik ya.

    Alhamdulillah, besok paginya, sekali lagi, benar-benar diluar ekspektasi. Hasil dekor catering sangat cantik. Dipadu sama dekorasi pelaminan.

    Pokoknya puas beud!!

    Ini sisi cateringnya. Terlihat simpel dan sederhana, tapi aslinya cantikkk banget!! (Dok. by Pak Budi si Fotografer ^^)

    ****

    Kyanya segitu aja kalik ya vendor-vendor yang bisa saya review. Masih banyak pihak yang membantu, tapi walau tak disebutkan dan ditulis dalam postingan kali ini, bukan berarti tak berjasa dalam perhelatan seumur hidupnya saya ini :)

    Terimakasih buat segalanya. Kecup basah buat para vendor semuaaanya.

    Eiitss, postingan #sudahalal masih akan ada part 2. Entah kapan saya akan menulisnya. :)

    Oiya, buat teman-teman yang pengen liat vendor-vendor tadi, geser aja kursor ke nama mereka yang berwarna. Lalu klik, nanti akan terhubung dengan akun Instagram mereka.

    Oke makasih semuanyaa.
    See yaa~

    *Untuk foto-foto acara selama dua hari (19-20 Mei 2017) akan dirangkum dalam postingan berikutnya yaaa. Postingan ini sudah terlalu panjang di baca. Ga perlu nunggu lama, silahkan buka aja postingan diatasnya. :)) 
    ** klik https://nda90story.blogspot.co.id/2017/07/19-20-mei-2017.html




  4. #menujuhalal

    Jumat, 02 Desember 2016

    Hello...

    Lama tak bersua.
    Beginilah kalau semangat menulis saat ini sudah macam pedagang musiman, hanya ada di moment tertentu, Padahal saya sendiri hari-hari kerja di urusan tulis menulis :p

    Dan ini setelah hampir kurang dari satu bulan saya kembali mengetik di papan keyboard pc. Biasanya hanya bermodal jempol yang membantu menyusun kalimat pada layar sekian inchi alias layar handphone.

    Sebenarnya sih, ide-ide nulis di blog itu udah numpuk. Selalu muncul tiba-tiba seperti saat mandi, buang hajat (you know what I mean ;p ), atau saat mengendarai motor dijalan. Tapi ya sudahlah, namanya semangat musiman.

    Dan kali ini, semangat saya muncul di musim jelang nikah. Lha!

    Yess, Alhamdulillah, ada juga orang yang mau lamar saya :D
    Haha! Siapa yang menyangka, ada yang mau sama saya.

    Jadi, calon tuan yang bakal tinggal seumur hidup sama saya ini, seorang kakak tingkat di kampus. Yes, selisih empat angkatan, dan usia pun selisih empat tahun. Saya ga pernah ketemu sama beliau, selama masa kuliah berjalan lima tahun itu.

    Bertegur sapa saja tidak, apalagi ketemu atau sekadar papasan. Tapi kok berani-beraninya dia malah pernah liat saya yang kurus dan galak itu :p

    Singkat cerita, dan berhubung saya ramah, suatu ketika dia mengomentari postingan Instagram. Intinya dia nitip dibelikan semacam batu akik Kalimantan, ya sudah berbagi nomor WA lah disitu.

    Namanya adik kelas, ya saya nurut dan manut. Lagian bantuin orang juga Insha Allah nambah pahala :))

    Setelah batu terkirim, sejak itu jarang bersahutan di WA, karena saya juga ga punya kepentingan sama beliau. Mengalir gitu aja, saling menulis komentar di postingan baik itu Instagram atau Path, atau juga Facebook.

    Akhirnya, pada medio awal tahun 2016, saya mengambil cuti untuk pertama kalinya. Saya memutuskan ke kota dimana beliau tinggal, saya mengabari, jadi deh akhirnya kami bertemu pertama kali. Nothing special! Yeass! Haha!

    Pada akhirnya karena sering berkomunikasi, dan aktivitas kunjungan saya ke kota itu cukup sering (karena suatu hal), rasa-rasa mulai datang. Tsaah!!

    Diawal saya selalu menekankan bahwa saya hanya butuh sesuatu yang serius. Dia memberi jaminan "ya". Berjalanlah, sampai akhirnya kami memutuskan untuk, ya menikah.

    Singkat cerita lagi, tepat satu pekan yang lalu, Sabtu, 26 November 2016, dia datang bersama Paklik yang juga mewakili keluarga besarnya, untuk melamar.

    Sekali lagi, Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dan berharap akan semakin lancar lagi menjelang hari besar, yang Insha Allah digelar sebelum Ramadhan tahun depan.

    Sekarang ini ya banyak yang saya persiapkan, mental, dan juga persiapan secara material khususnya untuk acara di hari H nanti, Ah sudahlah. Oiya foto-foto ga ada yang spesial karena memang ga sempat panggil fotografer profesional :p

    Si Tuan (kedua dari kanan, yang sejak awal masuk rumah udah ngabarin kalau grogi, jadi maaf aja kalau nunduk terus :|

    Suasananya sederhana, karena saya sendiri juga ga mau terlalu ramai.

    Eh, Si Tuan kepotong :p

    Alhamdulillah :')


    Oke lah sekian tulisan acakadul ini. Akan berlanjut di part kedua, yang pasti bakal masih lama lagi :))

    Oiya, Insha Allah kalau niat lancar dan bukan sekadar wacana, blog akan dilengkapi dengan segmen beauty, yang akhir-akhir ini saya minati, selain soal gincuk. okeeee..

    See yaaa...
     Balikpapan, 2 Desember 2016
    Sepekan setelah lamaran

    Kantor. #piketday

  5. Yak, update blog lagi.

    Kali ini, saya mau memposting kegiatan saya bulan Februari silam, waktu menjelajah Bali hanya dua hari saja.

    Dan tulisan di bawah pernah dimuat di rubrik jalan-jalan (saya lupa nama rubriknya apa :D ) Tribun Kaltim, edisi weekend, tanggal sekian bulan sekian (lupa edisi kapan :p )

    Tulisan di bawah juga masih murni tulisan saya, belum masuk dalam tahap editing.


    And check this out!!

    ===================================================================

    Bali, siapa yang tak mengenal pulau dengan sebutan pulau seribu pura ini. Setelah sepuluh tahun kemudian, akhirnya saya menjejakkan kaki untuk ketiga kalinya di pulau itu. Meski hanya semalam dua hari, tapi perjalanan singkat di Bali memunculkan cerita baru lagi.

    Mungkin saya juga harus berterimakasih kepada kantor yang memberi kesempatan saya untuk menikmati Bali sebentar.

    Menggunakan jadwal penerbangan paling pagi dari Balikpapan, saya bersama kedua teman tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai lebih cepat 35 menit dari waktu kedatangan yang tertulis di tiket.

    Bali cerah di hari libur itu, namun menurut Bli Eko, seorang tour guide yang menemani wisata kami di Bali, malam sebelumnya Bali diguyur hujan. Terlihat dari sisa-sisa genangan air di jalanan Bali.

    Selepas landing, kami bertolak menuju hotel. Kebetulan kawasan hotel berada di pusat wisata belanja Bali, jalan Kartika Plaza, Kuta. Bukan segera cek-in kami hanya menitipkan barang di resepsionis, dan menjemput seorang kawan lagi yang sudah lebih dulu berada di Bali malam sebelumnya.

    Kami berempat, ditambah Bli Eko dan sang supir, menuju kawasan wisata pertama, di Bali Selatan, Uluwatu.

    Kawasan Bali Selatan, dari penuturan Bli Eko, dianggap sebagai kaki-nya Bali. "Kalau kepalanya Bali, itu ada di utara, tepatnya di kawasan Singaraja," jelas Bli Eko memberi penjelasan pada kami.

    Uluwatu menurut website yang saya buka selama perjalanan, masih dalam wilayah Kecamatan Kuta , Desa Pecatu, Kabupaten Badung, sekitar 25 km ke arah selatan dari wilayah wisata Kuta.

    Perjalanan saya dari hotel, menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit lamanya.

    Tiba di Uluwatu, Bli Eko mengingatkan untuk menjaga barang dari jangkauan monyet ekor panjang yang merupakan penunggu tetap kawasan pura Uluwatu.

    "Monyet di sini nakal, suka mengambil barang turis. Jadi harus waspada dan hati-hati," peringatan Bli Eko saat memasuki loket karcis masuk kawasan wisata Pura Uluwatu.

    Dengan tiket dewasa Rp 20 ribu, dan anak-anak Rp 10 ribu, kita dapat menikmati lautan lepas yang merupakan Samudera Hindia. Sebelum masuk kawasan, kita akan melihat papan peringatan untuk turis, agar tidak membawa barang yang mudah diambil monyet ekor panjang, seperti kacamata, anting, maupun ikat rambut.

    Syarat utama memasuki kawasan ini, bagi wisatawan yang mengenakan celana panjang harus mengikatkan selendang di pinggang, bagi yang mengenakan celana pendek harus menggunakan kain panjang, yang dililit di pinggang menyerupai sarung.

    Pura Uluwatu menurut Bli Eko, sudah dibangun sejak abad ke-16 oleh seorang pendeta Hindu, Danghyang Nirarta, yang juga pendiri kawasan Tanah Lot. Ulu sendiri berarti di atas atau kepala, lalu watu adalah batu. Maknanya, sebuah pura yang didirikan di atas batu karang, dan menghadap langsung ke Samudera.

    Suasana di seputaran Pura Uluwatu benar-benar tenang, diiringi dengan suara deburan ombak samudera dibawahnya, rasanya benar-benar tenang. Tapi sayang, kami para wisatawan dilarang masuk ke kawasan pura kalau tidak untuk kepentingan berdoa.

    Sebenarnya, waktu yang paling tepat mengunjungi kawasan wisata ini adalah sore hari. Selain dapat menikmati matahari terbenam, kita pun juga disuguhkan dengan hiburan tari Kecak. Tapi, ya sudahlah, toh saya sudah cukup puas ke tempat ini menikmati suara ombak, dan angin laut, ditemani monyet-monyet nakal yang kapan saja bisa mengambil barang.

    Tujuan selanjutnya, adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK). Ini kunjungan ketiga saya di tempat ini, tak ada yang berubah. Patung Dewa Wisnu masih ditempatkan terpisah dengan patung Garuda.

    Proyek ini bisa dibilang proyek lama pemerintah provinsi Bali sejak 2003, dan belum selesai sampai sekarang. Niat awal pemerintah Bali adalah mendirikan patung untuk menyaingi Liberty yang ada di Amerika. Tapi entah kenapa, proyek ini seakan mandeg di tengah jalan.

    Tiket masuk yang ditawarkan pengelola GWK adalah untuk pelajar Rp 40 ribu, dewasa Rp 50 ribu, wisatawan asing Rp 100 ribu. Sayang, cuaca Bali hari itu, sangat panas, untuk berfoto saja kami harus menutup mata karena silaunya cahaya matahari.

    Sejujurnya kunjungan kesini cukup membosankan, tapi sudah masuk dalam jadwal tur yang dipesan oleh seorang kawan.

    Setengah jam menikmati GWK, kami langsung menuju sebuah pantai. Kawasan yang untuk pertama kalinya saya singgahi di Bali, Pantai Pandawa.

    Area parkir Pantai Pandawa
    Pantai ini, masih di kawasan Bali Selatan, Kabupaten Badung. Pantai ini unik, terletak di balik perbukitan kapur. Bahkan beberapa meter memasuki kawasan parkir, kita akan disuguhkan patung dari lima ksatria dari epos Hindu yang terkenal Mahabarata, Pandawa dan juga sang ibunda, Dewi Kunthi.

    Patung ini di pahat dari batu kapur, lalu diletakkan dalam tebing yang sedikit dilubangi untuk meletakkan patung-patung itu. Lima patung Pandawa diletakkan bertingkat, dengan patung Dewi Kunthi yang diletakkan pertama kalinya. Berurutan putra pertama Pandawa, Yudistira, dan terakhir adalah Sadewa.

    Tiba di parkiran, cuaca benar-benar panas. Cahaya matahari cukup menyengat kulit dan ubun-ubun kepala. Meski Bli Eko menawarkan payung untuk kami, tapi saya sendiri memilih untuk menutupi kepala menggunakan jaket. Menuju pasir pantai yang putih, suasana sangat ramai.

    Air laut di pantai ini benar-benar biru. Didukung dengan pemandangan langit biru, semakin menambah keindahan kawasan ini. Pengelola pun menyediakan payung disekitaran pantai, dan juga penyewaan kano.

    Birunya Pantai Pandawa, dengan pasir putihnya. Dilengkapi fasilitas penyewaan kano.
    Sayaaaaaa :D
    Cukup 45 menit kami berada di Pantai Pandawa. Kami menyudahi wisata hari pertama di Bali itu. Selanjutnya perut yang keroncongan sedari pagi, kami isi dengan menikmati ayam kampung Betutu khas Bali yang terdapat di Kuta. Melelahkan, semoga besok lebih menyenangkan.



    HARI KEDUA

    Yak, memulai hari terakhir wisata di Bali, setelah sarapan dan segera cek-out dari hotel, saya bersama teman yang lain melanjutkan perjalanan menuju Tanah Lot. Janjian pukul 09.00 tetapi baru bisa berkumpul pukul 10.00, ya kebiasaan ngaret orang Indonesia.

    Kali ini wisata saya lakukan bersama kedua teman, sedangkan seorang teman harus pulang lebih dulu karena alasan pekerjaan. Praktis, saya bersama kedua orang teman, Bli Eko dan juga sang supir.

    Saya akan meng-skip cerita di Tanah Lot, buat saya tempat ini sama seperti sepuluh tahun lalu. Kami melanjutkan menuju kawasan Bedugul. Tapi karena permintaan teman yang ingin mencari arak Bali dan juga kopi Bali, kami menuju jalan raya Denpasar-Bedugul, Desa Perean, Baturiti, Tabanan-Bali.

    Di tempat ini kami disuguhkan aktifitas pembuatan kopi asli Bali. Memang kawasan ini banyak ditumbuhi pohon kopi jenis arabika. Bahkan tersedia pula kopi luwak yang dikenal mahal. Kopi luwak di tempat ini pun juga diproduksi sendiri, tak heran jika terdapat empat ekor binatang luwak atau musang.

    Nenek penyangrai biji kopi Bali, maupun biji kopi luwak.
    Meracik beragam rasa teh.
    Aroma kopi yang disangrai menemani kunjungan kami. Tak hanya kopi, rempah-rempah untuk kebutuhan pembuatan teh juga tersedia.

    Beruntung di tempat ini disediakan tester dari semua minuman yang diproduksi sendiri. Seperti curcuma tea, mocha tea, mangosteen tea, coconut coffee, saffron tea, red rice tea, pandanus tea, cocoa, kopi bali, kopi ginseng, lemon grass tea, dan juga ginger tea.

    Tapi sayang tester untuk kopi luwak dihargai Rp 50 ribu ukuran gelas kecil. Daripada mengeluarkan Rp 50 ribu, saya memilih merasakan tester yang disediakan secara gratis.


    Satu toples kecil kopi luwak dibanderol Rp 300 ribu. Sedangkan kopi Bali yang dikemas sederhana menggunakan paper bag berwarna coklat hanya Rp 16 ribu saja. Tak hanya berbagai cemilan oleh-oleh khas Bali, untuk minuman teh dibanderol Rp 6 ribu sampai Rp 10 ribu.

    Puas berbelanja oleh-oleh di sini kami melanjutkan tur ke Bedugul tepatnya di kawasan Ulun Danu Beratan. Setelah makan siang, kami menikmati pura di sini. Meski tak bisa berfoto di dalam pura, menikmati alam sekitar danau yang dingin juga dapat menentramkan hati.

    Pura di Danau Beratan
    Tapi sayang kabut yang turun, disertai gerimis membuat kami harus bergegas untuk kembali ke pusat kota. Perjalanan yang dirasa agak lama, membuat saya tertidur, sepertinya bukan hanya saya, kecuali sang supir kami semua seperti disihir untuk mengantuk dan tertidur selama
    perjalanan.

    Satu jam rasanya saya dan yang lain tertidur. Kami tiba di Kuta, tepatnya di kawasan Sunset Road, di pusat oleh-oleh Agung Bali.

    Beli oleh-oleh untuk kawan di kantor, keluarga, dan diri sendiri. Benar-benar kalap rasanya, murah, lengkap, dan menyenangkan.

    Setelah dua jam memilih, menimbang, dan akhirnya memutuskan untuk membeli oleh-oleh dan titipan teman. Kami diantar Bli Eko menuju bandara, bersiap kembali pulang ke Kalimantan, dan kembali bertugas untuk esok hari.  (amanda liony)

  6. Malam Kelu

    Senin, 20 April 2015

    First time, nulis blog langsung dari handphone. Alasannya banyak, malas membuka laptop/pc, maupun malas untuk duduk berlama-lama di depan layar.


    Malam ini, Senin 20 April 2015, malam kelu. Sesak. Didukung dengan dada nyeri sebelah kiri. Entahlah, saya hanya tak mau mengeluh di depan kamu. Lebih banyak diam jadi pilihan. Karena ini terlalu berat, rasanya berat. Berat untuk melihat kamu, apalagi mendengar saran dan nasehatmu.


    Bibir terlalu kelu,  untuk menyampaikan bahwa saya ketakutan. Apa? Jauh dari kamu! 


    Jarak jauh bukan hal yang baru, hanya kali ini saya benar-benar merasa takut. Dari pengalaman yang sudah-sudah, seminggu kita pisah, kau hanya manis di awal, selebihnya larut dalam rutinitas yang membuat saya selalu berpikir, "kau sedang apa di sana?" Tanpa saya tahu apa jawabannya, pertanyaannya yang tak pernah saya selesaikan.


    Malam ini, kembali nasehat dan pesanmu, kau lontarkan, meski dalam hati saya bukan soal itu. Membuang muka bukan berarti tak mendengar, saya hanya memikirkan soal ketakutan, dan saran juga pesanmu. 


    Saya hanya terlalu malu, untuk bertanya, "sampai di sana nanti, seberapa lama kamu akan tetap berkomunikasi dengan saya?" 
    Sebab bosan, dengan ketakutan yang sejak dua minggu terakhir ini datang.


    Dengan absurdnya, kamu tetap terus berbicara, tak jarang guyonan jadi pilihan kamu untuk membuat saya tersenyum. Sesekali kepala mu ditidurkan di atas pahaku, sebagai kode kepalamu di belai, manja. Senang ketika melakukannya, hanya semakin dalam, saya cuma bisa menahan kelu untuk kesekian kalinya.


    Saya diam, lebih banyak diam bahkan. Yang saya harapkan, "besok temenin di bandara ya?" Atau "besok bisa ke bandara ngga?"


    Pikirmu, saya macam remaja ya. Saya pikir, orang jatuh cinta memang berkelakuan seperti anak sekolahan. Entahlah..


    Beberapa waktu yang lalu pun, kau bilang bahwa tak bisa menjanjikan apapun saat ini. Yang saya ingat lagi, kelak ketika kau datang kembali ke kota minyak ini, ada komitmen yang akan kamu beri untuk saya. Entah, saya harus menunggu berapa lama. Dan entah, itu komitmen seperti apa. 


    Besok, saya harus memulai untuk kembali lagi menjadi seorang yang mandiri. Kembali menjadi perempuan yang berpura-pura tangguh dengan segala tuntutan kerja. Dan kembali, menikmati sore sendiri. Makan siang, makan malam, akan saya lewati mungkin nanti bersama teman-teman.


    Kau tahu, saat ini di kamar, yang saya benar-benar saya ingat dan rasakan, adalah aroma kamu. Selintas, aroma tubuhmu menempel di baju yang saya kenakan ini. Sudahlah!


    Besok hari baru, menikmati waktu tanpa harus menunggu untuk bertemu. Tapi hari baru untuk menanti komitmen yang apakah itu baik atau buruk buat saya. Semoga kuat! Saya berharap kuat! Karena saya ingin kamu! Omen!



    Malam kelu, dengan samar geluduk diatas rumah
    Balikpapan, 20 Maret 2015




  7. #manyfactsaboutme #1

    Kamis, 18 September 2014

    Tulisan ini semacam meniru apa yang sedang booming di instagram, sebuah sosial media yang setiap pemilik akunnya bisa memposting foto atau gambar mereka.

    Mungkin di instagram diberi judul dengan hashtag #20factsaboutme sedangkan pada tulisan ini, tidak hanya 20 tapi mungkin bisa banyak, atau bahkan bisa kurang. Yang jelas saya tidak akan mencantumkan nomor-nomornya.

    Dan tulisan ini dibuat ketika otak saya sendiri penuh dengan sebuah, sebuah apa ya? Masalah? Bukan, bukan masalah. Tetapi pikiran, yang kadang menjadi sebuah masalah dalam benak saya sendiri. Entahlah..

    Mari dimulai...

    - saya suka Senja. Buat saya Senja itu cantik. Penuh kejutan, kadang misterius. Kadang kita tak tahu apa yang terjadi saat Senja tiba. Senja saya sukai sejak hampir setahun yang lalu. Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Hanya, ketika Senja saya sering dalam posisi sendiri, menikmati Senja yang datang entah itu dari gunung, dipantai, pinggir jalan raya, pinggiran jembatan diatas kali yang mengalir. Tapi, yang paling saya sering lakukan adalah melewati Senja ketika sedang mengendarai motor. Perlahan, menikmati Senja dengan kesendirian. Dan selalu mengucap syukur bahwa saya masih bisa menikmati Senja kesekian kalinya. Masih soal Senja, saya suka mengibaratkan Senja adalah diri sendiri. Dicintai ketika waktu tiba, lalu begitu hilang akan dilupa begitu saja. Senja yang malang :))

    - Selain Senja, saya pun juga senang menikmati hujan. Dingin, bahkan penuh kenangan. Hal-hal yang saya lewati dan penuh memori lalu, kebanyakan ketika hujan. Itu sebabnya saya lebih memilih kehujanan daripada harus memakai jas hujan. Dan itu sudah sering kali saya lakukan beberapa bulan terakhir.
    Hujan pun kadang menjadi teman tidur yang menyenangkan. Tutup mata, buka jendela ketika hujan, nikmati suaranya.
    Kalau ada petir itu lain soal :D

    - Coklat. Perempuan mana yang tidak suka coklat? Jawabannya hanya satu, perempuan yang menjalani program diet. Karena tubuh kurus saya inilah, saya suka makan makanan manis. Terlebih coklat. Coklat kemasan untuk konsumsi yang pasti, bukan coklat murni yang belum dimasak.

    - Es krim. Cemilan manis, dingin, dan menyenangkan. Hal terakhir di tanah rantau yang saya lakukan, menikmati es krim dalam Senja :)

    - Buku. Terlebih lagi novel. Seseorang yang dulu pernah dekat dengan saya pun sangat suka menghadiahi novel. Ya, mungkin karena kebiasaan saya yang suka membaca, dan keinginan saya yang bercita-cita memiliki perpustakaan pribadi. Dalam posisi saya yang hobi dan doyan "ngambek", dia selalu menghadiahi saya novel sebagai ucapan maaf. Tapi sayangnya, karena sesuatu hal dan melupakan kenangan, saya lebih memilih untuk mengembalikan semua barang yang pernah dia beri. Yang saya ingat, terakhir saya berkunjung ke rumahnya, barang-barang yang saya kembalikan masih ada dalam tas yang saya bawa untuk membawa hadiah darinya. Mungkin sekarang barang-barang itu telah dihibahkan ke orang lain, atau di buangnya, atau bahkan di bakarnya :)

    - Posesif. Ini jelek. Iya. Jangan kan pada sebuah hubungan dengan laki-laki. Pada barang saja saya posesif. Buku misalnya, saya sangat jarang meminjamkannya pada orang lain. Kalau tidak dipaksa :)

    - sangat dekat dengan bapak. Dari bayi sampai sekarang memang cenderung dekat dengan bapak. Yang mengajari memancing, bapak. Yang mengajari masak nasi, bapak. Yang mengajari kupas bawang merah, bapak. Yang mengajari masak ayam kecap menu yang selalu dimasak kala masih anak kost, juga dari bapak. Bapak mengajarkan banyak hal sama saya. Terakhir waktu galau soal pekerjaan, bapak bilang "jalaninnya jangan terpaksa, kalau terpaksa mending ga usah dijalanin. Kalau kamu ikhlas, dan menikmatinya, Insha Allah akan sukses."
    Itu sebabnya dalam diri saya lebih penuh sifat kelaki-lakian, dari pada wanita. Etapi ngga juga ding, saya kadang bersikap wanita, nggosipin orang misalnya :p

    - pemakai kacamata. Ya, saya memakai kacamata sejak kelas X. Waktu itu lebih sering lepas pasang. Ketika belajar dalam kelas saya pakai, diluar itu saya lepas. Ternyata efeknya sangat buruk. Minus bertambah. Penglihatan jarak jauh semakin minim, akhirnya kelas XI secara resmi saya adalah pemakai kacamata tetap. Ini juga diperparah kebiasaan baca buku sambil tidur.

    - Jorok! Yaa, keliatannya saja saya bersih dan sempurna. Tapi bagi mereka yang pernah berkunjung ke kamar kost saya, akan tahu seperti apa rupa kamar kost saya :))

    - Saya tidak bisa memasak selain makanan ini: ayam kecap, tumis kangkung, sayur bening, telur goreng, nasi goreng, tahu/tempe, sambal mentah, tumis jagung muda.
    Selain yang disebutkan, jangan harap saya bisa!

    - menyendiri dan jalan-jalan. Jalan-jalan sendirian sudah hal lumrah bagi saya, sejak hidup di tanah rantau.

    - kopi, buku, dan sunyi buat saya adalah satu kesatuan buat saya. Tapi terkadang kopi saya ganti dengan minuman coklat :)

    - Sastra. Suka bahasa, kalimat, puisi, sejak bangku SMP. Itu sebabnya pekerjaan saya saat ini tak jauh dari tulis menulis dan hobi jalan-jalan. Emmm, satu lagi, hobi menyendiri. Pekerjaan ini cocok untuk seorang penyendiri. Mungkin saja :))

    - berbicara cita-cita, saya ini labil. Tapi labil ini berpengaruh dari hal yang saya alami. Sejak SMA saya ingin sekali menjadi guru. Sampai sekarang, saya selalu mengagumi profesi ini. Tapi sayang, ada hal yang mengubah cita-cita saya itu. Lingkungan dan passion. Mungkin guru saat ini hanya tinggal impian. Saya juga tidak berharap untuk menjadi guru, kalau diberi kesempatan saya ingin mengajar satu hari saja, baik itu di SD, SMP, SMA. Ada yang bisa memfasilitasi? :

    - Bayi montok, lucu, menggemaskan. Jangan harap bisa lepas dari saya :)

    Mungkin segini saja. Sudah terlalu lelah berlama-lama di depan pc. Masih akan ada kelanjutan. Semoga.

    --TO BE CONTINUE--

  8. Mereka Itu Keluarga Saya

    Senin, 14 Juli 2014

    Hello guys :D
    I'm back again :)

    Yupp, di Ramadhan hari kesekian ini, saya masih selow. Dan masih glundang-glundung dikamar :|
    Di postingan kali ini masih bercerita soal kehidupan saya di Jogja. Kali ini soal, para bakulers (sebutan buat penjaja makanan langganan :D ) yang sudah saya anggap keluarga sendiri. Ga banyak kok, yang penting ada :D
    Oke, saya menulis urutan acak, tidak ada kesenjangan siapa yang jadi favorit. Semuanya sama, sebab mereka sudah saya anggap keluarga sendiri.

    1. Panjul, Juragan (Mie) Ayam Kampus
    Judulnya cuma buat lucu-lucuan, bukan yang sebenarnya :D
    Saya atau bahkan kami yang biasa ngumpul, dan nongkrong di kantin kampus fakultas menyebut/memanggil mereka dengan sebutan Panjul, just Panjul. Sopan? Jelas tidak saya pikir. Sebab kami usianya terpaut jauh dengan si Panjul ini. Tapi, si Panjul ini sudah biasa. Tua-muda selalu memanggil beliau hanya dengan nama itu.

    Si Panjul ini orangnya terbuka sama siapa aja, mudah dekat dengan siapapun. Bahkan ketika saya ada masalah keuangan, saya selalu curhat dengan Om Panjul (saya biasa memanggil beliau dengan sebutan Om via sms, tapi klo manggil tetap "Panjul" :D ). Beliau tidak membantu secara langsung tapi akan memberikan jalan keluarnya, terserah saya mau menjalankannya atau tidak. 

    Bahkan ketika pengalaman hape hilang, saya minta tolong beliau buat dicarikan hape murah. Setelah obrol sana sini, saya sama Om Panjul ini janjian ketemu di suatu malam di tempat penjualan hape di daerah Moses. Bener-bener ngebantuin sampe saya dapet hape murah disana. Nuwun nggeh Om :D

    Om Panjul ini jiwanya muda, walau sebenarnya ngga muda. Kabar soal desas desus yang lagi in di kampus dia bisa paham. Nanya orang ini, orang itu dia sudah khatam. Kayanya seluruh mahasiswa di FIS di kenalnya -_-
    Obrolan dengan beliau bermacam-macam, dari yang serius, ringan, sampe yang tahap cabul sekalipun. Kemungkinan satu-satunya perempuan yang diajak ngobrol saru cuma saya. Entahlah..

    Panjul Mie Ayam, cukup legenda dilingkungan kampus. Mulai berjualan di sekitar kampus sejak 2000. Menurut penuturannya, beliau berjualan di seputaran rektorat. Kemudian pindah lapak diarea FIS (kala itu masih bernama FISE). Tahun 2009, gerobak mie ayam beserta pemiliknya pindah area penjualan menjadi di dalam kampus FIS, tepatnya di kantin yang ada di timur Fakultas.

    Waktu menjajah kantin, saya dan yang lain tak seberapa akrab dengan beliau, malah saya ngga pernah jajan mie ayamnya. Berbeda dengan kakak-kakak kelas saya, mereka sangat akrab sekali, cukup akrab bahkan kakak angkatan saya itu terbiasa ngutang :3

    Kemudian kantin dipugar, direnovasi, ada penambahan ruang diluar kantin. Tempat jadi luas, dan gerobak mie ayam Panjul menguasainya. Nah, sejak itu saya dan kawan kelas lain mulai mengakrabi diri dengan beliau :D

    Saya, waah jangan ditanya. Njarah kerupuk pangsit yang ada di kaleng gerobaknya sudah biasa untuk saya dan yang lain. Bahkan saya sangat sering njarah ayam yang dijadikan pelengkap menu utamanya. Jadi, misal saya pengen nasi, tapi saya ga mau pke lauk yg ada dijual si ibu gendut nan cerewet itu, ayam dari Panjul lah yang saya jarah. Beli nasi di tmp ibu gendut, lauknya dari Panjul. Huahahahahahahaha..
    Beberapa kali saya dapat kritikan dari kakak kelas sama kegiatan njarah menjarah itu. Saya mah sebodo, selama Om Panjul masih oke dan bilang "nyante wae mbak", saya tetap teruskan :D
    Hanya kebiasaan itu berubah dan hilang semenjak saya pke jilbab, kenapa? Ya biar lebih santun aja lah :D

    Area Mie Ayam Panjul ini biasa dijadikan tempat ngumpul, misal janjian sama teman, "ketemu dimana Nda?" dengan pasti saya selalu jawab "dipanjul aja!" Haha.
    Area ini sebenarnya juga ga asyik-asyik banget buat nongkrong, tapi karena ada keakraban dengan juragannya, ya sutralah, selalu jadi pilihan tempat berkumpul, tempat bersosialisasi, tempat nyinyir, tempat bribik, de el el.

    Dari area ini juga saya banyak dapat kenalan, saya dapat banyak teman. Saya ga mau cerita soal ini, yang jelas dari area ini, saya sering di BRIBIK dari jurusan sebelah ! Damn!


    2. Pak Felix, Juragan Angkringan Depan Kampus
    Nah ini, bakulers yang sangat dekat dengan mahasiswa dari berbagai fakultas di UNY. Dari angkringan ini, saya belajar makan nasi kucing, saya belajar makan kepala ayam bakar. Awal saya di Jogja, saya ngga pernah yang namanya mencicipi nasi kucing. Pertanyaan pertama, "emang enak?", "emang bersih makan di angkringan?" dan beberapa pertanyaan sok borjuis lainnya.

    Dulu banget, Pak Felix selalu berjualan dengan rekannya, Pak Temon. Tak heran spanduk yang ditulis "ANGKRINGAN TEMON FELIX". Namun karena alasan apa, sudah setahun terakhir mereka berdua bergantian jualan, jika minggu ini Pak Felix, maka minggu berikutnya si Pak Temon.

    Saya sendiri lebih akrab dengan Pak Felix daripada Pak Temon, mungkin karena sifat kebapakan yang ada diri Pak Felix.

    Pak Felix ini lucu, kalo ada saya doyannya becanda, becanda sekaligus ngece sih -_-
    Sebenarnya saya sama Pak Felix kenal karena seseorang, iya, mantan saya yang mahasiswa Sosiologi itu. Dia kenal, dan akrab dengan Pak Felix begitu juga dengan Pak Temon. Ketika saya sudah putus pun, saya masih sering makan disana, sendirian :D

    Seperti halnya Panjul, Pak Felix ini juga banyak mengenal mahasiswa, khususnya mahasiswa yang ikut UKM. Jadi wajar, angkatan tua banyak mengenal beliau, begitu juga beliau sendiri.

    Menu utama yang jadi langganan saya dan sangat dihafal Pak Felix adalah kepala ayam yang dibakar gosong di seluruh permukaannya :)
    Semenjak belajar di angkringan depan kampus ini lah, saya doyan menjelajah angkringan-angkringan yang ada di Jogja. Tak jarang saya menjelajahnya sendirian. 

    Menjelang kepulangan saya ke Kalimantan, setiap harinya saya mengunjungi dan makan di Angkringan Pak Felix. Selalu memesan yang sama. Bosan? Ngga! Wong murah meriah dan mengenyangkan kok :D


    3. Mbak Santi, sang kasir kantin :D
    Sebenarnya, Mbak Santi ini kasir di kantin, bakulannya cuma minum-minuman, macam es teh, teh hangat, kopi de el el.
    Dan kenal Mbak Santi ini ya sejak saya masuk di UNY.

    Awalnya ga bagitu akrab, tapi keseringan nongkrong di kantin, membuat saya harus mengakrabkan diri dengannya. Mbak Santi ini orangnya asyik, santai, padahal sudah termasuk ibu-ibu, gayanya yang ceplas-ceplos mudah dekat dengan mahasiswa FIS.

    Beberapa kali saya sering ngobrol banyak persoalan sama Mbak Santi, masalah rumah tangga, masalah asmara, soal kuliah de es be.

    Terakhir saya curhat dan cerita masalah asmara yang ribet, malesi, njelei, dan ngeselin. Berhubung sudah banyak pengalaman, ya dia menyampaikan saran, memberi pendapat, dan berbagi cerita. Ga ada yang spesial sih dari cerita saya sama Mbak Santi ini, tapi hal yang selalu diingat Mbak Santi dari saya, "Goodday Chocino es, tanpa gula" :)


    4. Juragan Sate Dekat Kost
    Nah ini, sampai sekarang saya ngga pernah tahu nama si bapak. Walau di spanduk namany "Sate Ayam dan Kambing Cak Sulaeman", tapi percaya deh, namanya bukan Sulaeman. Sebab, pemilik aslinya saya kenal :D

    Si bapak yang tinggal di Wonosari ini sudah kenal banget sama saya, saya sering, bahkan doyan makan sate ditempat beliau, sendirian. Sudah jadi hal lumrah, maka ketika saya ajak teman, dan saya berkunjung sendiri lagi, si bapak pasti bakal nanya, "lha temannya kemaren kemana?"

    Sate ayam dengan teh hangat dan potongan bawang yang banyak. Itu menu yang selalu saya pesan. Si bapak juga paham. Harga, cukup Rp. 10.000/porsi. Anehnya, kalo sama pelanggan yang lain, si bapak ini selalu memasang tarif diatas Rp. 10.000. Mungkin karena saya pelanggan terlama, dan tetap. Gimana tidak, sudah berganti pacar saya selalu ngajak mereka yang pernah jadi pacar saya untuk kesitu, dan itu sudah berlangsung sejak 2009 sampai saya lulus dalam keadaan single -.-


    5. Ibu Bakulers Kledokan
    Ini juga saya ngga tau nama si ibu :D
    Tapi si ibu ini baaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkk banget.
    Sudah anggap saya anak sendiri. Dan beliau orang kesekian yang paham menu-menu favorit saya disitu, tahu kremes, dan cah kangkung. Kenapa saya sebut Kledokan, karena memang tempatnya di Jalan Kledokan, Babarsari.

    Saya sering kesini sendirian, bahkan terlampau sering. Saya kenal tempat dan pemiliknya karena dulu lokasi tempat saya bekerja partime tepat disebelah warung si ibu. Sebelum masuk jam shift, saya selalu memilih tempat ini untuk mengisi perut, bahkan ketika libur bekerja pun pasti saya selalu kesini. 

    Semenjak resign dari tempat bekerja itu, frekuensi saya datang dan makan disana tak berkurang. Dengan menu yang sama, tahu kremes dan cah kangkung. Padahal menu lainnya juga banyak, tapi menu itu selalu jadi pilihan utama. Aku kan orang setia :3
    Fufufufufufufu~
    Duuh, kangen cah kangkungnya, bu :(


    Balikpapan, mendung, bilik sembilan, di bulan Ramadhan
    14 Juli 2014, dalam kerinduan yang tak bertepi~



  9. Sudah Hampir Enam Tahun Berkawan

    Jumat, 04 Juli 2014

    Hallo, setelah beberapa bulan vakum dari dunia per-blogging-an, saya akhirnya kembali :D
    Sekarang tepat hari ke-tujuh bulan Ramadhan menurut Muhammadiyah, dan hari ke-enam menurut pemerintah. Tepat di Ramadhan 2014 ini, saya sudah resmi bukan lagi seorang mahasiswa. Saat menulis blog dan mempostingnya sekarang pun saya berada di salah satu bilik warnet di rumah yang dikelola orang tua saya sendiri, lumayan kan browsing gratis :D

    Disini saya ingin bernostalgia dengan kampus saya, bukan, bukan dengan kampus, melainkan dengan kawan-kawan sekelas saya, Ilmu Sejarah UNY 2008. Yak, disini sedikit membicarakan sebagian teman-teman saya itu. Dulu sekali, saya lupa tepatnya tahun berapa, seorang kawan juga pernah menulisnya di note facebook, judulnya Review Tahun Pertama di UNY (Part 3) *sangat terpaksa stalk akun facebook dia -_-

    Di note ini, kawan saya dengan sangat gamblang menceritakan sikap dan kelakuan masing-masing penghuni Ilmu Sejarah UNY 2008. Positif-negatif dengan runtut dan menurut sudut pandangnya. Kali ini saya akan melakukan yang sama, menceritakan masing-masing personal. Bukan maksud mengikuti atau menyaingi tulisan yang pernah ada sebelumnya, tapi ini sebagai perasaan sedih saya yang harus kembali ke tanah kelahiran. Otomatis, rasa untuk berkumpul seperti dulu kala masih kuliah itu sangat besar. Hanya untuk berkumpul, berceloteh, dan ngece :))

    Kita mulai dari (si)apa dulu?

    Foto ini diambil tahun 2011, saat kegiatan KKL Jakarta-Bandung
    1. Suroto
        Akun facebooknya, entah masih aktif atau tidak bernama Tukrek Prawirodirjo. Entah apa arti nama itu. Mungkin dia malu menggunakan nama SUROTO. Memiliki tubuh tinggi dan besar, termasuk orang yang cerdas. Kenapa saya bisa bilang seperti itu, karena itulah yang saya kenal dari Roto, begitu saya menyebutnya :D

    Roto seorang kawan yang sangat suka membaca, tak hanya sejarah, soal sastra pun dibaca (mungkin) habis olehnya. Kesenangannya membaca ini kadang mendukung argumen-argumennya dalam berdiskusi. Bahkan soal tulisan, atau apapun yang tak saya pahami, orang pertama yang saya cari adalah dia.

    Pemalas, mungkin sematan yang pantas untuknya. Bagaimana tidak, ujian skripsi bulan Juli 2013 (tepatnya saya lupa kapan, tapi sepertinya memang bulan segitu) sampai sekarang, Juli 2014, itu revisi pasca ujian belum diurusnya. Ada banyak alasan mungkin, hanya Tuhan yang tahu. Saya selalu menganggap Roto ini memang cerdas dan pintar, tapi sayang dia termasuk orang yang jika dibahasa Jawa-kan "nggampangke". Istilah awamnya ya menyepelekan sesuatu. Akibat yang dilakukannya Roto termasuk salah satu DPO Prodi, kenapa salah satu? Masih ada beberapa kawan sekelas yang menjadi DPO Prodi :|

    Roto ini terlibat cinta lokasi dengan seorang gadis asal Purbalingga, yang juga kawan sekelas, Dinda namanya. Entah bagaimana akhir dari perjalanan kisah cinta mereka sekarang. Desas desus berkembang, mereka putus kemudian balikan lagi. Entahlah. Apapun yang mereka jalankan saat ini semoga itu yang terbaik. Amien.

    Jadi To, kapan kamu mau menyelesaikan akademikmu dikampus?

    2. Dinda
        Karena saya tadi sempat menyinggung nama Dinda, oke selanjutnya adalah dia. Bernama lengkap Dinda Fatmah Dewanti, gadis kelahiran asli daerah ngapak (itu sebabnya pasangan Roto-Dinda, kami sebut sebagai duo ngapak). Dinda begitu saya sapa, adalah satu-satunya kawan sekelas yang meraih gelar S. S (Sarjana Sastra) pertama.

    Sejak angkatan kami sudah diharuskan menulis, dan menyerahkan judul skripsi, Dinda cukup bersemangat mencari judul, mengumpulkan sumber sampai ke Jakarta. Kami, termasuk saya, sangat super santai menghadapi semester 6 keatas. Ya, kala itu saya masih berpikir, masih ada jatah beberapa tahun, sayang jika tidak dihabiskan :D

    Mendengar Dinda akan ujian skripsi, jedeeeeeeer, semacam terkena kabar klo kekasih lagi jalan sama anak SMA terus tidur bareng berdua *iniapasih -_-
    Yak, kaget itu pasti, dinda ujian skripsi, sedangkan saya, masih berleha-leha dengan kerjaan partime saya masa itu. Bahkan beberapa kawan saya, juga sudah melakukan seminar, dan persiapan ujian skripsi juga. Namanya cuma angin lewat, ya perasaan saya yang kaget dan merasa ketinggalan pun turut lewat begitu saja :p

    Awalnya, saya dan Dinda cukup dekat. Bersama dengan kawan sekelas lain yang berjenis kelamin sama, perempuan. Tapi saya merasa, semenjak Dinda dekat bahkan menjalin hubungan dengan makhluk bernama Roto itu, kedekatan dengan kawan lain agak sedikit berjarak. Ya namanya juga cinta, bahkan mengalahkan apapun, namun hal itu tak membuat kami menjauhinya.

    Dimana ada Roto disitu ada Dinda, begitu pun sebaliknya.

    3. Damar
       Pria kelahiran Klaten, yang sangat tidak suka diece. Tapi sangat doyan ngece, dia-lah Damar Widyatmoko. Kemungkinan termasuk dalam daftar DPO Prodi. Menghilang dari peredaran pasca pengembalian draft proposal yang dilakukan sekretaris prodi yang juga pembimbing skripsi saya sendiri. Disuruh merevisi proposal tapi tak kunjung kembali ke prodi. 

    Namun akhirnya kembali ke kampus, ketika salah seorang kawan sedang ujian skripsi. Mungkin Damar ini datang dengan harapan, traktir mie ayam Panjul yang menjadi langganan di kampus. Ketika disuruh menyelesaikan draft atau skripsi, hanya acuhan, bahkan ngeyel-an yang dia berikan. Padahal kami teman-temannya bermaksud baik untuk mengingatkan.

    Damar ini pemarah, sangat cepat marah. Apalagi jika disinggung soal Dian, salah seorang kawan sekelas asal kecamatan Turi, Sleman. Ya, ini kami-kami sekelas juga yang membuat kabar, klo Dian dan Damar itu saling suka -_-
    Tapi saya sendiri lupa siapa yang memulai berita ini.

    Hanya, Damar ini sangat suka ngece, imajinasi dan daya pikirnya sangat luas klo sudah mengejek dan mengolok-olok orang, entah itu biasa atau bahkan pikiran saru sekalipun.

    4. Dian
        Gadis asli Sleman ini hanya muncul di waktu-waktu tertentu. Semacam makhluk astral, yang kemunculannya kadang-kadang. Setelah mata kuliah habis dan bebas teori, Dian Ristiyani menghilang, tak pernah ke kampus, entah itu sekedar ke lab, atau ke perpus. Dia hanya mau datang "berkunjung" ke kampus saat pembayaran uang kuliah (spp), dan konsultasi KRS-an.

    Ya, saya terakhir bertemu dengannya bulan Februari kemarin, saat pembayaran uang kuliah. Ketika itu, saya masih dihadapkan pada penyelesaian revisi pasca pendadaran. Ketika ditanya, gimana skripsi, jawaban pasti yang selalu dikeluarkan adalah, "aku masih bingung Nda." Jelas bingung, klo ke kampus hanya 6 bulan sekali -_-

    Dan yang selalu menjadi pertanyaan saya dan beberapa kawan lain, "dia itu ngapain sih dirumah? ada kerjaan apa, sampai judul skripsi selalu bingung."

    Termasuk gadis yang sangat pemalu, ngga doyan maen seperti saya dan lain. Ketika masih kuliah pun, jika mata kuliah selesai dihari itu, ya sudah kembali ke desanya di Turi sana. Memang termasuk kupu-kupu, kuliah-pulang, kuliah-pulang.

    5. Hasbi
        Gus Wahid, begitu sapaan yang disematkan oleh seorang dosen untuknya. Lengkapnya ya Hasbi Marwahid, termasuk salah seorang kawan pemikir. Mikirin apapun itu :D Kritis, dan analitis. Satu-satunya kawan yang mendapat predikat cumlaude. Wajar sih, Hasbi memang dikenal sangat kritis, saking kritisnya saat diskusi kelas ketika dia menyampaikan pendapat dan argumen itu bisa menghasilkan waktu 10-15 menit sendiri. Lama.

    Tapi itulah Hasbi, dia salah seorang kawan yang sangat suka membaca setelah Roto. Penampilannya sederhana, dan terkadang juga memiliki obrolan absurd ketika berkumpul dengan kawan-kawan lain yang absurd. -.-

    Kemungkinan, Hasbi ini sangat doyan yang namanya belajar :3 dia pun kini melanjutkan sekolah pasca sarjana S2 di tempat bergengsi, UI, pastinya mengambil jurusan yang sama dengan sebelumnya. Saya ingat, pernah bertanya begini, "ga di UGM aja bek?" dengan pasti, Hasbi menjawab, "ga minat Nda."

    Oiya, panggilan akrab yang biasa kami sebut adalah bebek. Saya sendiri juga ga tau asal muasal panggilan itu, apa karena kebagusan dipanggil "Bi", maka banyak diplesetkan menjadi "bek", dan akhirnya menjadi Bebek. Entahlah.

    6. Tika
        Ini dia, seorang kawan yang ngintilin saya sejak saya ikut KRS untuk Maba ketika tahun pertama saya masuk UNY di 2008. Sartika Putri Khaerani, termasuk seorang kawan sekelas yang sangat cerewet dan pemalu. Heran, cerewet tapi pemalu. Dan herannya lagi, pasti saya selalu sama dia -_-

    Tika ini sebenarnya baik, tapi klo udah ngomongin orang, Masya Allah, ga akan pernah berenti. Pemalu, dan ga pede klo kemana-mana sendirian. Tapi semoga sifat pemalu dan ga pedenya itu ilang seiring waktu dia merasakan pekerjaan. 

    Soal tika sudah pernah saya tulis panjang lebar di twitter, yang sudah saya chirpstory-kan, ini linkny; http://chirpstory.com/li/180919 monggo dibaca :D

    Tika, bisa dibilang teman nyinyir saya. Klo udah urusan nyinyirin orang, udah deh, ga bakal bisa berenti. Bergunjing rasanya menjadi tema kami berdua ketika bertemu, bahkan ketika hanya lewat aplikasi chat sekalipun :/

    Saya juga cukup sering curhat panjang sama dia, apalagi curhat masalah asmara saya yang ribet dan ga ada habisnya. Sama dia saya curhat sambil nangis-nangis, minta saran. Tika memang ckup dewasa ketika dimintai saran masalah asmara, sebab dia sendiri memiliki pengalaman panjang, bersama mantan pacarnya yang kini jadi suaminya. Bagaimana kita harus bersikap dengan pasangan, hingga bagaimana menghadapi masalah dengan pasangan.

    Tapi yang terkadang bikin ga kuat saya sama Tika, sifat ga pedenya itu. 

    Jadi kapan kamu isi? Aku pengen dipanggil ate sama anakmu :3

    7. Tifa
        Saya selalu menyebut perempuan Kulonprogo ini sebagai Si Bohay :D

    Lengkapnya bernama Latifa Amirunnisak, biasa disebut Tivha, Tifa, Tipul, atau apapunlah. Disaat-saat terakhir saya tinggal di Jogja, saya sangat dekat sekali dengannya. Kami berdua memang punya banyak kesamaan, tapi beda rupa.

    Sama-sama doyan belanja, doyan jajan, doyan nongkrong, doyan ngopi, dan doyan curhat :) Apa yang ga diketahui oleh kawan sekelas lainnya, saya mengetahui semuanya, bahkan yang bersifat sangat rahasia sekalipun :D

    Gadis yang sangat narsis, sangat doyan difoto daripada mem-foto :3 senang dengan yang berhubungan dengan fashion, make up, dan senam. Yak senam, tifa ini rutin senam, untuk menjaga kekencangan tubuh, sesibuk apapun dengan pekerjaannya sekarang, waktu senggang harus diisi dengan senam. Mungkin itu prinsipnya saat ini.

    Tifa ini banyak fans, terakhir saya di Jogja, saya menginap di kostnya, kebetulan malam itu dia mendapat kunjungan seorang laki-laki yang dikenalnya melalui sosial media, Path. Tak hanya berupa kunjungan, sebuket bunga pun diserahkan langsung untuk Tifa dari laki-laki itu. Edan pengaruh Tifa di mata para lelaki :|

    8. Adnan alias Gatot
        Ini dia lelaki rupa dangdut. Namanya bagus, orang tuanya pintar memberi nama, tapi rasanya sayang jika nama itu diberikan oleh anak sepertinya. Adnan Rafsanjani, terobsesi menjadi seorang polisi. Bahkan hobi mengedit-edit foto, entah itu foto dirinya, atau foto untuk bahan cacian dan ecean di sosmed.

    Lihat saja nama akun twitternya Polisi Urusan Khusus -_- Benar-benar sangat terobsesi. Gatot, sapaan akrab yang entah dari mana asalnya, adalah seseorang yang cukup baik untuk berkawan, hanya pikirannya cukup cabul untuk dijadikan seorang kawan.

    Orangnya sih manut, apalagi klo disuruh menyelesaikan masalah akademik. Bersama Gatot-lah saya seminar proposal, bersama dia juga saya wisuda. 

    Bos togel begitu dia menyebut pekerjaannya saat ini, selain bisnis togel yang dia jalankan setiap malam, Gatot juga berbisnis jual-beli alat musik.

    Ngerokoknya kuat, bahkan minum-minuman alkohol dia rajanya. Saya pikir dia orang sekelas yang sangat doyan minum.

    Oiya, selain terobsesi menjadi seorang polisi, dia juga berobsesi dengan seorang perempuan, bernama Dini. Perempuan Pendidikan Sejarah 2007, yang menurut Gatot tepat dijadikan pendamping hidup, tapi jelas menurut mbak Dini, Gatot sangat ngga tepat dijadikan suami.

    9. Khoyum
        Sang ketua Hima periode 2009-2010 atau 2010-2011, saya lupa. Dikenal kalem, dan rada' pahpoh. Tapi dianggap mesum dan cabul oleh sebagian kawan kelas. Namany M. Khoyummudin, tapi selalu diplesetkan menjadi Mesummudin -_-

    Dianggap plin-plan, dan memiliki sifat pakewuh yang sangat tinggi sekali. Pakewuh sendiri jika dibahasakan secara awam adalah rasa sungkan. Dikit-dikit selalu "pakewuh aku". Padahal dia asli Kediri, Jatim. Paham lah orang-orang Jatim memiliki watak atos, mau menang sendiri. Tapi saya rasa, Khoyum bukan orang Jatim tulen.

    Khoyum sangat dekat dengan Tika-Tifa. Kemana-mana klo ga sama saya, mereka pasti bertiga. Bisa dipertanyakan Khoyum ini murni lelaki atau bukan.

    10. Reko
         Kalo ada yang tanya, Reko itu makhluk apa? Jelas manusia, berwujud, dan .............. (silahkan kalian isi titik-titiknya). Reko Pambudi Cahyo Prabowo, begitu nama lengkap yang diakuinya. Padahal sejak satu kelas dengan, yang saya ketahui namanya hanya Reko Pambudi.

    Reko biasa disapa, adalah pusat dari bahan ecean kami dikelas. Ketika menyelesaikan skripsinya, Reko ini sangat bersemangat, sakin semangatnya saya dengar dosen pembimbingny datang terlambat saat pendadarannya. Entah sengaja ditelatkan atau memang ada keperluan lain. Entahlah.

    Reko ini cukup royal sama perempuan tertentu. Tapi ngga pernah royal sama saya. Saya sih ngga peduli, selama dia ngga ganggu hidup saya.

    Siapapun yang kumpul disuatu tempat, entah ada Reko atau tidak ada, dia selalu menjadi pembicaraan teratas. Baik itu dengan kawan kelas sendiri, kakak kelas, atau adik tingkat sekalipun. Reko selalu nomor satu untuk dibicarakan.

    11. Arga-Deni
          Ini dia dua kawan saya yang saya jadikan satu saja, membicarakan keduanya kurang lebih sama. Apridhan Arga dan Y. Denny Sudiantoro, yang meracuni saya naik gunung. Awal pertama saya naik gunung karena nazar yang telah saya lontarkan di grup WhatssApp, mereka berdua inilah yang menemani saya entah dengan siapapun naiknya, pasti ada mereka berdua. Bahkan kami cukup sering naik gunung hanya bertiga *ngga sering bgt sih -.-

    Bahkan kami menyebutkan diri kami bertiga sebagai trio nyinyir. Iya, NYINYIR! Nyinyirin apa aja, siapa aja, apapun, siapapun, bahkan juga menyinyiri salah satu diantara kami bertiga :3

    Arga, asli Bima, NTB. Sedangkan Deni, Singkawang, Kalbar, tapi punya rumah di Magelang. Sejak awal kuliah saya ngga bgitu dekat dengan keduanya. Saat tengah semester mereka berdua cukup tidak aktif mengikuti kuliah, menghilang di akhir semester. Tapi selalu rajin di awal semester.

    Saat kumpul dengan mereka berdua pun saya juga tidak pernah membahas bagaimana masa depan kuliah mereka, yang ada isinya nyinyirin orang, persiapan pendakian, dan tujuan pendakian selanjutnya.

    Arga, klo ketawa kadang bisa nyaingi Tika, nyaring. Deni, orang pendiam dan terlihat kalem, tapi klo sekali ngomong kadang lucu, kadang juga cenderung pedas tergantung lawan bicaranya.

    ****

    Yak itu tadi sebagian karakter dan soal kawan-kawan saya dikelas. Hampir enam tahun kenal mereka, banyak banget pengalaman lucu saat kenal mereka. Saya kadang berharap bisa seperti dulu, berkumpul bersama, ngece berjamaah dsb. Tapi jelas dulu dan sekarang itu berbeda. Mereka masing-masing memiliki kehidupan dan kesibukan sendiri. 

    Ya, saya berharap setidaknya, nanti entah kapan kami bisa ngumpul lagi, bertemu, mengobrol dan mengece bersama lagi.

    Yang saya tulis memang tidak semua, sebab yang lain-lain yang sisa 2 orang lainnya menghilang dan jarang berkumpul bersama. Ahh sudahlah, toh tidak ada mereka tidak mempengaruhi hidup saya. 

    :)

Diberdayakan oleh Blogger.